Skip to main content
FOTO: Penampakan Banjir Hebat Melanda Hoi An Vietnam (sumber: AFP/NHAC NGUYEN - CNN Indonesia)
FOTO: Penampakan Banjir Hebat Melanda Hoi An Vietnam (sumber: AFP/NHAC NGUYEN - CNN Indonesia)

Gelombang Dahsyat, Banjir Memecah Rekor Hantam Vietnam

By Putri Nurbaiti
FOTO: Penampakan Banjir Hebat Melanda Hoi An Vietnam (sumber: AFP/NHAC NGUYEN - CNN Indonesia)
FOTO: Penampakan Banjir Hebat Melanda Hoi An Vietnam (sumber: AFP/NHAC NGUYEN - CNN Indonesia)

Gelombang Dahsyat, Banjir Memecah Rekor Hantam Vietnam

By Putri Nurbaiti

Gelombang banjir yang memecahkan rekor menghantam wilayah tengah Vietnam, memaksa ribuan orang mengungsi dan meninggalkan jejak kehancuran yang meluas. Hujan ekstrem dan longsoran tanah menyapu rumah-rumah, jalanan serta lahan pertanian sebuah tragedi yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai salah satu bencana alam paling parah dalam beberapa dekade terakhir.

Sejak akhir Oktober, curah hujan melonjak tajam di banyak provinsi pesisir Vietnam. Pejabat setempat melaporkan bahwa curah hujan pernah mencapai sekitar 1,7 meter dalam 24 jam, sebuah angka yang jarang bahkan belum pernah tercatat di wilayah tersebut. Akibatnya, air sungai meluap, tubuh air naik dengan cepat, menyebabkan rumah-rumah di provinsi seperti Da Nang, Hue dan Lam Dong serta kota warisan Hoi An terendam hingga setinggi pinggang orang dewasa.

Pejabat manajemen bencana Vietnam mencatat bahwa sedikitnya 35 orang tewas dan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang akibat banjir ini dengan kerusakan mencakup lebih dari 120.000 rumah yang rusak atau terendam.

Di Hoi An, air-bah memaksa penduduk menggunakan perahu untuk melintasi jalan-jalan kota yang biasanya ramai. “Kami sudah bersiap, tapi tidak menyangka air akan naik setinggi ini,” ujar seorang warga setempat, menggambarkan betapa cepat dan intens tragedi ini datang.

Tidak hanya pemukiman yang terdampak, sektor pertanian juga menerima pukulan telak. Ribuan hektare lahan sawah dan kebun buah-buahan terendam, dan ratusan hingga ribuan hewan ternak dilaporkan mati atau hilang akibat banjir dan longsor.

Operasi penyelamatan dan evakuasi di lapangan menemui banyak kendala. Hujan terus mengguyur dan tanah dalam kondisi jenuh, membuat risiko longsor makin tinggi dan mobilitas tim penyelamat menjadi terbatas. Pemerintah Vietnam bersama militer dan badan penanggulangan bencana dikerahkan, namun skala kerusakan dan kondisi cuaca ekstrem membuat upaya pihak berwenang sangat berat.

Para ahli memperingatkan bahwa kejadian seperti ini sejalan dengan pola perubahan iklim di mana cuaca ekstrim semakin sering muncul, termasuk intensitas hujan yang melebihi kapasitas sistem drainase dan infrastruktur lokal. Asia Tenggara, dengan letak geografisnya, menjadi salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap fenomena ini.

Dari sisi manusia, kisah-kisah seperti rumah yang hancur dalam sekejap, warga yang kehilangan segala barang, atau petani yang menyaksikan ladangnya tenggelam, semuanya menambah beban psikologis dan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, bagaimana pemulihan dan bantuan akan dijalankan menjadi pertanyaan penting.

Sebagai langkah segera, kebutuhan mendesak seperti tempat pengungsian yang aman, makanan dan air bersih, serta tenaga medis untuk menangani korban luka dan potensi wabah. Sementara itu, dibutuhkan pula rencana jangka panjang untuk memperkuat infrastruktur, memperbaiki sistem drainase, menata kembali permukiman dan lahan yang berisiko tinggi banjir.

Tragedi banjir di Vietnam tengah bukan sekadar bencana lokal ia menjadi pengingat bahwa efektivitas mitigasi bencana, kesiapan masyarakat dan adaptasi perubahan iklim harus bergerak lebih cepat. Dengan kerusakan sudah terjadi dan korban manusia sudah banyak, yang tersisa adalah upaya bersama untuk membangun kembali sekaligus memastikan bahwa skenario serupa bisa diminimalisir di masa depan.



Share