Ruang Ketiga, Tempat Warga Kota Menjadi Manusia setelah Seharian Bekerja
Ruang Ketiga, Tempat Warga Kota Menjadi Manusia setelah Seharian Bekerja
Bagi pekerja di perkotaan, tak jarang kantor serupa rumah kedua. Apalagi jika rumah yang sebenarnya sudah menjelma jadi tempat yang kita jumpai untuk tidur dan mandi saja. Namun, sempatkah terpikir bahwa ada “ruang ketiga” yang sama pentingnya untuk kita datangi?
Apa sih maksudnya ruang ketiga?
Ruang ketiga ini bukanlah kantor ataupun rumah tinggal. Namun, sebuah tempat di mana kita bisa bersantai, bengong, atau berinteraksi dengan orang lain. Sebuah ruang yang mengizinkan kita untuk melepaskan diri sebentar dari rutinitas pekerjaan.
Istilah ruang ketiga pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Amerika, Ray Oldenburg, dalam bukunya yang berjudul “The Great Good Place”. Oldenburg menulis bahwa ruang ketiga ini berbeda dari rumah tinggal (tempat pertama) dan kantor (tempat kedua). Wujudnya biasanya berupa tempat yang dapat diakses publik di mana interaksi sosial dapat terjadi. Contohnya, taman, perpustakaan, kafe, atau bahkan tempat nge-gym.
Kebutuhan manusia modern
Melansir RICS, berbagai faktor sosial dan ekonomi telah mengikis keberadaan ruang ketiga di sekitar kita. Taman-taman tempat bersantai sering kali jadi korban keterbatasan ruangan. Digusur untuk kepentingan-kepentingan materiil, seperti untuk pembangunan mall atau pusat perbelanjaan sejenis.
Namun, ruang ketiga ini tetaplah jadi kebutuhan banyak orang. Terutama manusia-manusia modern yang kehidupannya sudah hampir habis di tempat kerja dan butuh rehat sejenak sebelum kembali ke rumah.
Banyaknya manusia kesepian
Alasan lain kenapa ruang ketiga ini sangat dibutuhkan adalah mewabahnya rasa kesepian dalam diri banyak orang. Terutama setelah pandemi terjadi dan memaksa kita berteman sepi dengan adanya kebijakan lockdown.
Di awal 2023, media Bloomberg mendeklarasikan wabah “epidemi kesepian” di Amerika Serikat. Istilah itu merespons temuan Google Trends bahwa ada peningkatan pesat pencarian orang-orang tentang “cara berteman” “di mana bisa menemukan teman” di mesin pencari Google. Adanya epidemi kesepian tersebut membuktikan bahwa kebutuhan kita akan koneksi dengan orang lain tidak bisa diabaikan. Kehadiran ruang ketiga bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Ruang ketiga di Indonesia
Ketersediaan ruang ketiga yang gratis dan dapat diakses semua orang masih jadi tantangan di Indonesia. Ruang terbuka hijau (RTH), seperti taman atau hutan kota adalah contoh ruang ketiga yang oke. Namun, sayangnya, belum banyak ada.
Contohnya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Depok tahun 2018, ketersediaan RTH di Kota Depok baru mencapai sekitar 16,33% dari total wilayah. Masih jauh dari target 30% RTH seperti yang ditetapkan pemerintah.
Di kota lain juga begitu. Berbagai faktor sosial dan ekonomi telah mengikis keberadaan ruang ketiga di tanah air. Taman-taman tempat bersantai seringkali justru digusur karena keterbatasan lahan.
Oleh karena itu, perlu usaha ekstra dari pemerintah dan pihak terkait untuk meningkatkan ketersediaan ruang ketiga yang gratis dan dapat diakses semua masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, ruang ketiga bisa menjadi oase untuk melepas penat dan menjalin koneksi sosial. Sayangnya, keberadaannya masih terbatas dan sering kali terpinggirkan oleh kepentingan komersial. Jika ruang ketiga semakin sulit ditemukan, ke mana lagi kita bisa rehat sejenak dari rutinitas yang melelahkan?