Skip to main content
FOTO: Pexels
FOTO: Pexels

Kurang Gerak? Hati-Hati Sarkopenia Bisa Mengintai Sejak Dini

By Salma Fauziah
FOTO: Pexels
FOTO: Pexels

Kurang Gerak? Hati-Hati Sarkopenia Bisa Mengintai Sejak Dini

By Salma Fauziah

Sarkopenia adalah penyakit yang sering terjadi pada lansia. Berkurangnya kadar massa tubuh dan fungsi otot membuat penderitanya mudah lelah dan jatuh. Sarkopenia ternyata juga bisa terjadi pada anak muda. Salah satunya disebabkan oleh gaya hidup kurang gerak atau sedentary life. 

Penyakit sarkopenia dan gejalanya

Sarkopenia ditandai dengan melemahnya kekuatan otot. Selain itu, melansir Siloam Hospitals, beberapa tanda lain juga biasa terjadi. Di antaranya stamina menurun sehingga sulit melakukan aktivitas harian, kesulitan naik-turun tangga, otot mengecil, dan mudah jatuh karena keseimbangan tubuh yang berkurang. 

Gejala-gejala tersebut terjadi karena adanya dua proses dalam tubuh yang saling bentrok. Kedua proses tersebut adalah katabolisme (penghancuran) dan anabolisme (pembentukan) sel otot. 

Sarkopenia pada anak muda

Menurut Ketua PP Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI), Dr. dr. Nina Kemala Sari, SpPD-Kger, MPH, generasi muda juga punya risiko mengalami sarkopenia. Secara keseluruhan, penyakit yang biasa muncul  di usia 40-an ini bisa dicegah dengan membiasakan hidup sehat sedari muda.

Menurut Dr. Nina, gaya hidup masa kini yang mengharuskan seseorang duduk lama untuk kerja kantoran bisa memicu sarkopenia. Sarkopenia berpotensi menyerang orang yang masa mudanya hidup kurang gerak. Maka, penting bagi kita untuk membiasakan beraktivitas fisik untuk mengimbangi gaya hidup yang kurang gerak tersebut.

Penyebab lain sarkopenia

Selain gaya hidup sedentari atau kurang gerak, sarkopenia juga bisa disebabkan oleh hal lain. Misalnya karena tubuh kekurangan nutrisi, terutama protein dan asam amino yang berperan membentuk jaringan otot. 

Selain malnutrisi, menderita penyakit kronis juga bisa jadi penyebab sarkopenia. Penyakit yang dimaksud adalah infeksi seperti tuberkulosis (TB), stroke, HIV/AIDS, atau penyakit lain yang mengharuskan seseorang beristirahat lama tanpa aktivitas fisik.

Mencegah sarkopenia

Lakukan aktivitas fisik sebentar, tapi rutin, daripada tidak sama sekali. Durasi aktivitas fisik yang dirasankan minimal 150 menit per minggu. Olahraga latihan beban bisa dicoba, dengan dumbell sederhana atau benda apapun seperti kotak atau botol air. Melansir Aloemedika, olahraga latihan beban seperti itu bisa meningkatkan daya tahan otot. 

Selain berolahraga, pencegahan sarkopenia juga bisa dilakukan dengan memilih makanan bergizi seimbang. Jenis makanan yang disarankan adalah kacang-kacangan, susu, ikan dan telur. Kita juga perlu menjaga jam tidur yang sehat dengan durasi 7-8 jam per hari agar sarkopenia tak menghampiri.

Sarkopenia bukan hanya penyakit lansia, tetapi juga bisa menyerang anak muda akibat gaya hidup kurang gerak dan pola makan yang tidak seimbang. Dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjaga pola tidur yang sehat, kita bisa mencegah penurunan massa otot sejak dini. Mari jaga kesehatan otot agar tetap kuat dan aktif sepanjang usia!



Share