Mengulas Tren Wedding Registry di Indonesia, Akankah Diterima Seperti di Barat?
Mengulas Tren Wedding Registry di Indonesia, Akankah Diterima Seperti di Barat?
Wedding registry adalah salah satu istilah dalam dunia pernikahan yang baru-baru ini jadi pro-kontra. Istilah ini mengacu pada daftar permintaan hadiah pernikahan yang dibuat oleh calon pengantin. Lewat wedding registry, pasangan bisa menyusun daftar barang yang mereka butuhkan atau inginkan untuk memulai kehidupan rumah tangga, sehingga tamu undangan bisa memilih hadiah sesuai dengan daftar tersebut.
Asal-mula wedding registry
Konsep wedding registry pertama kali diperkenalkan oleh sebuah department store di Amerika Serikat pada tahun 1924. Awalnya, tujuan utama dari daftar ini adalah untuk membantu pasangan pengantin mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan untuk memulai kehidupan rumah tangga. Seiring waktu, konsep ini berkembang dan diadopsi oleh berbagai platform online. Calon pengantin bisa menyusun barang yang mereka butuhkan sesuai selera.
Di negara-negara Barat, wedding registry memang sudah jadi tradisi umum. Pengantin dapat mendaftarkan barang impian mereka lengkap dengan lokasi pembelian, lalu tamu undangan bisa langsung memilih hadiah sesuai dengan anggaran mereka. Konsep ini kemudian mulai dikenal di berbagai negara lain, termasuk Indonesia.
Pro-kontra wedding registry
Wedding registry memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang mendukung, konsep ini dianggap sangat membantu tamu undangan karena mereka tidak perlu lagi bingung memilih hadiah yang sesuai. Dengan adanya daftar yang telah disusun oleh pengantin, tamu bisa langsung memilih sesuatu yang memang dibutuhkan oleh pasangan tersebut.
Hal ini juga menghindarkan kemungkinan adanya hadiah yang sama atau kurang bermanfaat bagi pengantin. Selain itu, wedding registry dinilai lebih efisien karena hadiah yang diterima pasti akan digunakan, bukan sekadar pajangan atau barang yang akhirnya tidak terpakai.
Di sisi lain, tidak sedikit yang menentang konsep ini. Bagi sebagian orang, wedding registry dianggap kurang sopan dan terkesan seperti “meminta-minta” kepada tamu undangan. Dalam budaya yang lebih tradisional, memberikan hadiah seharusnya menjadi bentuk niat baik dan inisiatif pribadi, bukan sesuatu yang ditentukan oleh penerima.
Beberapa orang juga merasa bahwa wedding registry membatasi kreativitas dalam memilih hadiah, karena mereka lebih suka memberikan sesuatu yang memiliki nilai personal daripada sekadar mengikuti daftar yang sudah disediakan.
Wedding registry di Indonesia
Menurut situs Froyonion, wedding registry masih belum begitu familiar di Indonesia. Beberapa pasangan sudah menerapkannya, tetapi masih banyak yang menganggap konsep ini tabu atau tidak sesuai dengan budaya lokal. Salah satu cara agar wedding registry lebih dapat diterima adalah dengan membagikan tautan daftar hadiah ini hanya kepada orang-orang terdekat atau kepada mereka yang memang bertanya mengenai hadiah pernikahan.
Di Indonesia, tradisi memberikan hadiah pernikahan lebih umum dalam bentuk uang atau barang yang dianggap berguna bagi pengantin. Oleh karena itu, konsep wedding registry terkadang dianggap terlalu “terencana” dan kurang fleksibel dibandingkan tradisi yang sudah ada.
Jika dilakukan dengan cara yang sopan dan bijak, wedding registry bisa menjadi solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak: pengantin mendapatkan barang yang benar-benar dibutuhkan, sementara tamu merasa terbantu dalam memilih hadiah. Namun, bagi yang masih nyaman dengan tradisi lama, memberikan hadiah dengan cara konvensional tetap menjadi pilihan yang valid dan bermakna.