Ramainya Kota Bikin Anxiety, Muda-mudi Mulai Bermimpi Pindah ke Kawasan Slow Living
Ramainya Kota Bikin Anxiety, Muda-mudi Mulai Bermimpi Pindah ke Kawasan Slow Living
Harian Kompas baru saja merilis 10 kota di Indonesia yang paling cocok untuk kehidupan slow living atau masa pensiun. Bukan tanpa soal, kajian ini lahir dari berbagai aspirasi anak muda yang ingin berhenti dari ritme kehidupan kota yang serba-cepat. Apakah Anda juga merasakan hal yang sama?
Mengenal slow living
Slow living itu bak kebalikan dari fenomena modernisasi yang menuntut kita selalu bergerak cepat mengikuti arusnya. Pada kehidupan slow living, kita diajak lebih fokus pada masa kini dan diri sendiri, sehingga hidup lebih santai, sederhana, tapi penuh makna.
Melansir Glints, slow living nggak hanya soal seberapa cepat kita bisa menyelesaikan pekerjaan. Namun, lebih kepada usaha untuk memenuhi tujuan hidup yang tepat tanpa buru-buru. “Tujuan yang tepat” ini contohnya perbaikan hubungan dengan diri sendiri dan orang terdekat. Hal ini menunjukkan bahwa slow living sebenarnya tidak hanya bicara soal kecepatan, tetapi lebih pada kualitas hidup secara keseluruhan.
Hidup di kota besar bikin anxiety?
Banyak orang punya cita-cita pindah dari kota besar ke pedesaan karena ingin memperbaiki kesehatan mental. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, kota yang tak pernah beristirahat, bisingnya jalanan, ternyata berpengaruh terhadap kestabilan mental seseorang. Apalagi kalau harus bertahan dengan rutinitas penuh tekanan selama bertahun-tahun.
Sebuah penelitian yang dikutip Halodoc menunjukkan bahwa penduduk kota 21% lebih mungkin alami gangguan kecematan (anxiety disorder) dan 39% lebih mungkin alami gangguan mood. Wah, berarti memang valid ya, kalau hiruk-pikuk kota memang punya hubungan erat dengan kesehatan mental kita!
Digitalisasi yang memungkinkan kita menyeimbangkan hidup
Mimpi pensiun muda atau pindah ke kawasan yang lebih slow living sering terbentur dilema. Apa dilemanya? Tentu, daerah yang lebih pelosok tidak menawarkan pemasukan sebesar di kota besar. Sementara, kebutuhan hidup tetap harus berjalan, atau mungkin kita sudah terbiasa dengan gaya hidup mahal.
Nah, hadirnya digitalisasi membuat dilema ini jadi punya titik cerah. Jika berhasil menemukan pekerjaan remote yang pas, kita tetap bisa punya pemasukan lumayan meski tinggal di pedesaan.
Selain itu, teknologi juga membuka peluang untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga meski tinggal berjauhan. Misalnya, kita bisa bekerja sebagai freelancer, mengelola bisnis online, atau bahkan memanfaatkan platform digital untuk berbagi pengalaman menjalani slow living. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang baik, gaya hidup slow living tidak hanya mungkin, tapi juga berpotensi memberi kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
Slow living bukan hanya sekadar tren atau pelarian dari kehidupan kota yang melelahkan. Gaya hidup ini menjadi alternatif yang memberi kita ruang untuk memprioritaskan kesehatan mental, memperbaiki kualitas hubungan, dan menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana tapi bermakna. Dengan dukungan teknologi, mimpi menjalani hidup yang lebih lambat dan seimbang kini semakin mungkin diwujudkan.