Skip to main content
Foto: Pexels
Foto: Pexels

Tren Women in Male Fields, Cara Baru Dobrak Patriarki

By Salma Fauziah
Foto: Pexels
Foto: Pexels

Tren Women in Male Fields, Cara Baru Dobrak Patriarki

By Salma Fauziah

Tren Women in Male Fields yang sedang viral di TikTok membawa angin segar bagi perempuan untuk membahas pengalaman buruk dalam hubungan.  Di sini, perempuan menceritakan kejadian tak mengenakkan yang mereka alami dari pasangan atau mantan, tapi dengan perspektif terbalik, seolah mereka yang melakukannya. Dari kalimat "Hidup aku nggak semua tentang kamu" hingga "Siapa yang jagain anak di rumah?", tren ini membuka mata kita tentang banyaknya perilaku toxic yang selama ini seringkali dinormalisasi dalam hubungan.

Melalui sindiran ini, tren ini juga memicu kesadaran perempuan akan berbagai red flags dalam hubungan. Perilaku seperti gaslighting, kontrol berlebihan, dan minimnya empati yang selama ini dianggap biasa saja, kini disorot dan dikecam. Di sisi lain, tren ini memberi ruang bagi perempuan untuk mengungkapkan kebutuhan mereka tanpa merasa takut atau malu. Women in Male Fields bukan sekadar ekspresi frustrasi, tetapi juga edukasi tentang pentingnya komunikasi, empati, dan saling menghargai dalam hubungan.

Sering kali, perempuan yang menyuarakan kebutuhan atau keinginan mereka dalam hubungan dianggap "terlalu menuntut" atau "terlalu emosional." Ini adalah salah satu bentuk dari patriarki, norma sosial yang menekan perempuan untuk selalu tunduk, lembut, dan tidak mengeluh. 

Begitu perempuan mencoba keluar dari ekspektasi ini, mereka langsung dilabeli negatif. Women in Male Fields berusaha meruntuhkan ekspektasi-ekspektasi kaku tersebut dengan cara yang unik: sindiran dan pelampiasan satir yang menghibur namun penuh makna.

Namun, patriarki tak hanya berdampak pada perempuan, tapi juga laki-laki. Laki-laki yang terjebak dalam peran maskulin yang kaku, sering kali merasa kesulitan untuk menunjukkan sisi emosional mereka. Mereka juga terpaksa mengabaikan kebutuhan emosional pasangan atau menganggap empati sebagai kelemahan. Pada akhirnya, perilaku ini justru menciptakan red flags dalam hubungan yang bisa berujung pada ketidakseimbangan yang merugikan kedua belah pihak.

Melalui Women in Male Fields, perempuan tidak hanya berani berbicara tentang ketidakadilan yang mereka alami, tetapi juga mendobrak batasan-batasan yang dibentuk oleh patriarki. Tren ini menegaskan bahwa perempuan berhak menuntut lebih, baik dalam hal perhatian, empati, maupun kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Women in Male Fields mengingatkan kita semua akan pentingnya empati dalam hubungan dan bahwa kebebasan untuk mengekspresikan perasaan dan kebutuhan adalah hak setiap orang, tanpa kecuali.



Share