Dari Aroma Bubur ke Relokasi: Pedagang Barito Melangkah ke Lenteng Agung
Dari Aroma Bubur ke Relokasi: Pedagang Barito Melangkah ke Lenteng Agung
Jakarta - Senin pagi (27/10) di kawasan Jalan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, suasana cukup haru ketika deretan kios kuliner yang selama ini menjadi ikon seperti Bubur Barito dan warung lain mulai dibongkar.
Alat berat dan petugas gabungan dari Satpol PP, PPSU, Dinas Perhubungan dan Dinas Sumber Daya Air tampak meratakan kios-kios yang berada di lokasi sementara (loksem) kuliner di Jalan Barito, Gandaria Tengah III, setelah pemerintah kota memberi SP3 (Surat Peringatan Ketiga).
Langkah ini dilatar-belakangi oleh program pemprov DKI Jakarta yang akan merubah kawasan tersebut menjadi ruang terbuka hijau terpadu yang diberi nama Taman Bendera Pusaka menggabungkan Taman Leuser, Taman Ayodya, dan Taman Langsat yang ditargetkan selesai Desember 2025.
Sementara itu, pedagang yang terdampak telah diarahkan untuk pindah ke lokasi baru, yakni Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung di kawasan Lenteng Agung, Jagakarsa. Pemerintah menyediakan sekitar 125 kios yang dibagi ke dalam beberapa zona, termasuk kuliner, pedagang burung/hewan peliharaan dan pakan, serta fasilitas tambahan seperti toilet dan musholla.
Meski tersedia relokasi, tak sedikit pedagang menyampaikan keberatan. Sebagian besar mengatakan bahwa hampir “99 persen” dari mereka menolak pindah ke Lenteng Agung karena dianggap jauh dari basis pelanggan mereka yang lama dan bahkan kawasan rawan banjir.
Salah satunya adalah seorang pedagang warung bubur yang telah berjualan di lokasi Barito selama puluhan tahun. Dengan nada sedih, ia menyampaikan bahwa selama ini lokasi Barito sudah sangat strategis ramai pelanggan, mudah dijangkau sedangkan lokasi Lenteng Agung menurutnya belum pasti akan membawa tingkat kunjungan yang sama.
Pihak Dinas PPKUKM DKI dan Pemkot Jakarta Selatan menyatakan bahwa relokasi ini telah melalui persiapan, dan bahwa program pembebasan biaya sewa kios selama enam bulan pertama serta pelatihan bagi pedagang akan dilaksanakan sebagai bentuk dukungan transisi.
Di lokasi pembongkaran, lalu lintas sempat terganggu karena sebagian jalan ditutup dan alat berat dikerahkan. Meski demikian proses disebut “humanis” dan “bertahap”, dengan mobilisasi relokasi.
Bagi warga dan pecinta kuliner khas Barito, perpindahan ini terasa seperti kehilangan satu sudut kota yang telah akrab dengan aroma bubur ayam rempah, bakso cinta Barito dan ragam warung kaki-lima yang telah menjadi destinasi nongkrong. Namun bagi pemerintah, ini adalah langkah menuju penataan kota yang lebih hijau, rapi, dan ramah pejalan kaki.
Ke depan, tantangannya bukan hanya relokasi fisik, tetapi memastikan pedagang eks Barito dapat mempertahankan pelanggan, adaptasi di tempat baru, dan bahwa Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung benar-benar menjadi pusat kegiatan yang hidup. Jika tidak, relokasi malah bisa menurunkan pendapatan para pelaku usaha UMKM yang selama ini membangun kehidupan mereka dari kios di Barito.
Relokasi yang ideal tentunya bukan sekadar perpindahan tempat, tapi juga mempertimbangkan aksesibilitas, daya tarik pelanggan, dan kesinambungan usaha semangat itulah yang diutarakan oleh banyak pedagang yang berharap bukan digusur, melainkan dibenahi di lokasi lama.