Skip to main content
Kondisi langit Jakarta yang gelap karena polusi udara. (Foto: unsplash/Aviv Rachmadian)
Kondisi langit Jakarta yang gelap karena polusi udara. (Foto: unsplash/Aviv Rachmadian)

Polusi Udara di Jakarta, Salah Siapa?

By Raihan Atha
Kondisi langit Jakarta yang gelap karena polusi udara. (Foto: unsplash/Aviv Rachmadian)
Kondisi langit Jakarta yang gelap karena polusi udara. (Foto: unsplash/Aviv Rachmadian)

Polusi Udara di Jakarta, Salah Siapa?

By Raihan Atha

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jakarta menjadi salah satu kota di Indonesia dengan polusi yang cukup tinggi. Hampir setiap hari langit Jakarta tertutupi kabut tebal. Bukan kabut yang biasa ditemui ketika berada di udara dingin, melainkan kabut akibat polusi udara.

Beberapa kali Jakarta juga masuk ke dalam peringkat lima besar sebagai kota dengan polusi paling buruk. Bahkan, hari Kamis (8/8/24) pagi ini, tercatat indeks AQI Jakarta berada pada angka 180, peringkat pertama di antara negara lain yang juga berpolusi. Posisi kedua ditempati oleh Kampala (167) disusul dengan Kinshasa (162).

Polutan terbesarnya yaitu PM 2,5 dengan konsentrasi sebanyak 96,5 mikrogram per meter kubik.

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab kenapa Jakarta bisa penuh sesak dengan pencemaran udara ini?

Asap knalpot kendaraan

Sebagian dari kalian pasti pernah berpikir Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara sebagai penyebab utama polusi di Jakarta. Nyatanya, itu tidak sepenuhnya benar.

Peringkat pertama penyebab polusi udara malah ditempati oleh asap yang dihasilkan dari knalpot kendaraan.

Penelitian yang dilakukan Vital Strategies yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2018 hingga 2019 yang lalu menunjukkan asap knalpot menjadi penyumbang utama polusi udara. Angkanya berkisar antara 32% hingga 41%.

Angka ini meningkat ketika musim kemarau menjadi 42% hingga 57%.

Hal serupa juga disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar pada 2023 silam. Menurutnya, sektor transportasi menyumbang polusi hingga 44%. Dimana 96,36% emisi karbon monoksida (CO) berasal dari kendaraan bermotor.

Kendaraan yang paling besar kontribusinya dalam polusi udara ini adalah sepeda motor. Wajar saja, populasi sepeda motor sendiri mencapai 78% dibanding kendaraan lainnya.

Pembakaran batu bara

PLTU batu bara menjadi penyumbang polusi terbesar kedua setelah kendaraan bermotor. Berdasarkan data Vital Strategies dan ITB, polusi udara dari pembakaran batu bara sebesar 14%. Penelitian ini dilakukan di daerah Lubang Buaya.

Banyaknya PLTU juga turut andil dalam menumpuknya polusi di Jakarta. Bahkan, Tempo menyebut, setidaknya ada 14 PLTU berdiri yang berjarak 100 kilometer dari Monas, pusat Kota Jakarta.

Pembakaran batu bara yang dilakukan sektor industri manufaktur juga menghasilkan emisi SO2 sebanyak 2.631 ton per tahun atau 61,9%. SO2 ini berbahaya karena menjadi salah satu penyebab iritasi pernapasan, terutama oleh mereka yang memiliki riwayat asma.

Musim kemarau

Hal lain yang turut menjadi sebab polusi udara di Jakarta yaitu musim kemarau. Kemarau membuat kualitas udara memburuk. Ditambah beberapa petani yang memutuskan membakar ladang ketika kemarau untuk membersihkan sisa-sisa tanaman setelah lewat masa panen.

Beberapa solusi

Ada beberapa solusi yang bisa kalian lakukan sebagai warga Jakarta.

Pertama, kurangi penggunaan kendaraan bermotor. Apalagi jika kendaraan bermotor yang kalian tumpangi hanya berisikan satu orang saja. Lebih baik menggunakan kendaraan umum atau kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda.

Juga usahakan ketika bepergian jarak dekat tidak perlu pakai kendaraan bermotor. Masa hanya jalan bentar ke minimarket harus pakai kendaraan bermotor?

Kedua, perhatikan emisi kendaraan kalian. Jika dirasa memang tidak memungkinkan beraktivitas tanpa kendaraan bermotor, harap perhatikan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan kalian.

Usahakan semuanya masih batas wajar. Karena, emisi kendaraan yang tidak baik akan berdampak buruk pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Ketiga, regulasi dari pemerintah perlu di perketat. Salah satu hal yang turut memengaruhi besarnya polusi di Jakarta adalah regulasi dari pemerintah yang tidak ketat. Banyak aturan yang tidak dijalankan dengan maksimal, sehingga masyarakat pun juga malas mengikutinya. Bahkan, beberapa regulasi malah membuat kendaraan semakin menumpuk, seperti mudahnya mengambil cicilan kendaraan bermotor.

Akhir kata, perlu kerjasama dari masyarakat juga pemerintah untuk mengatasi permasalahan polusi udara di Jakarta. Tapi yang paling penting, semua ini bermula dari diri kalian. Semudah berjalan kaki ke minimarket di depan gang.



Share