Skip to main content
Yati Pesek (FOTO: Bengkulu Network)
Yati Pesek (FOTO: Bengkulu Network)

Mengenal Lebih Dekat Yati Pesek, Sang Pemberdaya Seni Indonesia

By Salma Fauziah
Yati Pesek (FOTO: Bengkulu Network)
Yati Pesek (FOTO: Bengkulu Network)

Mengenal Lebih Dekat Yati Pesek, Sang Pemberdaya Seni Indonesia

By Salma Fauziah

Nama Yati Pesek sudah tak asing lagi di kalangan pecinta seni. Bagaimana tidak, ia sudah lebih dari enam dekade menjadi seniman yang disegani. Berbagai titel ia lakoni, mulai dari penyanyi, pelawak, hingga pemain film.

Biografi singkat

Yati Pesek adalah nama panggung yang sudah sangat dikenal. Nama asli beliau adalah Yati Supriyanti. Yati lahir di kota budaya Yogyakarta pada 8 September 1952. Pemilihan nama panggung dengan embel-embel ‘pesek’ terinspirasi dari nama mendiang ibunda, Janoko Pesek. Meski ada sumber lain yang mengatakan bahwa nama tersebut diasosiasikan dengan bentuk hidung Yati yang menjadi ciri khasnya di panggung hiburan.

Mulai jadi pegiat seni sejak kecil

Perjalanan seni Yati sudah dimulai sejak usia muda. Pada usia tujuh tahun, ia menari di pembukaan pagelaran wayang kulit. Beberapa tahun kemudian, saat usianya 12 tahun, Yati bergabung dengan kelompok Wayang Orang Jatimulyo yang berbasis di Kebumen. Dari sinilah ia mulai tampil dari panggung ke panggung.

Debut di layar kaca terjadi pada tahun 80-an, saat ia sering tampil di program Sandiwara Jenaka KR yang disiarkan oleh TVRI Yogyakarta. Era yang sama juga menandai debut Yati di film layar lebar. Pada tahun 1982, ia membintangi film Serangan Fajar yang disutradarai oleh Arifin C. Noer. Film ini membuka jalan bagi judul-judul lain yang dibintanginya dengan apik, seperti Lawang Sewu (2007), Yowis Ben 3 (2021), dan Teluh (2022).

Dedikasi tanpa henti untuk dunia seni

Kecintaan dan dedikasi Yati terhadap dunia seni juga terbukti dengan berdirinya Padepokan Seni Endah Suryatiningrum pada tahun 2005. Padepokan ini dibangun oleh Yati di dekat tempat tinggalnya, tepatnya di Desa Manisrengga, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Melalui padepokan ini, Yati berusaha melestarikan dan menyalurkan keahliannya kepada masyarakat sekitar.

Dua tahun setelahnya, Yati mendirikan Ketoprak Kartini Mataram, sebuah kelompok kesenian ketoprak yang seluruh anggotanya adalah wanita. Selanjutnya, pada tahun 2009, Yati mendirikan Wayang Orang Tresno Budaya untuk umum.

Yati Pesek tidak hanya dikenal sebagai seorang seniman berbakat, tetapi juga sebagai sosok yang inspiratif dan memberdayakan. Selama lebih dari enam dekade berkarya, ia tidak hanya mengukir prestasi di berbagai bidang seni, tetapi juga berperan dalam mendidik dan melestarikan tradisi kesenian Indonesia melalui Padepokan Seni Endah Suryatiningrum dan kelompok-kelompok seni lainnya. Yati terus menjadi contoh bagi banyak orang, khususnya bagi para wanita di dunia seni, menunjukkan bahwa melalui dedikasi dan semangat yang kuat, seseorang dapat memberikan dampak positif yang luas dan abadi bagi komunitasnya.



Share