Skip to main content
FOTO: endometriosis (sumber: Bocah Indonesia)
FOTO: endometriosis (sumber: Bocah Indonesia)

Endometriosis: Penyakit yang Sering Terabaikan, Tapi Berdampak Besar pada Kesehatan Wanita

By Putri Nurbaiti
FOTO: endometriosis (sumber: Bocah Indonesia)
FOTO: endometriosis (sumber: Bocah Indonesia)

Endometriosis: Penyakit yang Sering Terabaikan, Tapi Berdampak Besar pada Kesehatan Wanita

By Putri Nurbaiti

Endometriosis adalah kondisi medis yang sering kali tidak disadari, namun dapat memengaruhi kualitas hidup wanita secara signifikan. Penyakit ini terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, saluran tuba falopi, atau jaringan di sekitar panggul. Setiap bulan, jaringan ini menebal, pecah, dan berdarah, namun karena tidak dapat keluar dari tubuh, menyebabkan peradangan, nyeri, dan jaringan parut.

Diperkirakan sekitar 10% wanita usia reproduksi di seluruh dunia mengalami endometriosis, yang berarti sekitar 190 juta wanita terdampak secara global. Namun, karena gejalanya sering dianggap sebagai bagian dari siklus menstruasi normal, banyak kasus yang tidak terdiagnosis atau salah diagnosis.

Gejala Umum Endometriosis

Gejala endometriosis dapat bervariasi antara individu, namun beberapa yang umum meliputi:

  • Nyeri panggul kronis, terutama saat menstruasi.

  • Perdarahan menstruasi yang berat atau tidak teratur.

  • Nyeri saat berhubungan seksual.

  • Nyeri saat buang air besar atau buang air kecil.

  • Kelelahan, diare, sembelit, kembung, atau mual, terutama selama menstruasi

Namun, beberapa wanita mungkin tidak mengalami gejala sama sekali, sementara yang lain dapat merasakan dampak yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti endometriosis belum diketahui, namun beberapa teori yang ada antara lain:

  • Menstruasi mundur (retrograde menstruation): Sel-sel endometrium mengalir ke belakang melalui saluran tuba falopi ke dalam rongga panggul selama menstruasi.

  • Faktor genetik: Memiliki riwayat keluarga dengan endometriosis dapat meningkatkan risiko.

  • Gangguan sistem kekebalan tubuh: Sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik dapat menyebabkan tubuh tidak mengenali dan menghancurkan jaringan endometrial yang tumbuh di luar rahim.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis endometriosis biasanya dimulai dengan evaluasi gejala dan pemeriksaan fisik. Untuk konfirmasi, dapat dilakukan pencitraan seperti USG atau laparoskopi, yaitu prosedur bedah kecil untuk melihat langsung dan mengambil sampel jaringan. 

Pengobatan endometriosis bertujuan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Pilihan pengobatan meliputi:

  • Terapi hormon: Menggunakan pil KB, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) yang mengandung progestin, atau terapi hormon lainnya untuk mengatur siklus menstruasi dan mengurangi pertumbuhan jaringan endometrial.

  • Obat pereda nyeri: Seperti NSAID (misalnya ibuprofen) untuk mengurangi nyeri.

  • Bedah: Dalam kasus yang parah, pembedahan untuk mengangkat jaringan endometrial yang tumbuh di luar rahim dapat dipertimbangkan.

Baru-baru ini, sebuah pil harian baru untuk pengobatan endometriosis telah disetujui di Inggris, yang memungkinkan pengobatan di rumah dan mengurangi kebutuhan untuk perawatan klinik yang sering. 

Dampak Psikososial

Endometriosis tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Wanita dengan endometriosis sering mengalami kecemasan, depresi, dan isolasi sosial akibat rasa sakit kronis dan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.



Share