Skip to main content
PON XXI akan menjadi pekan olahraga terbesar di Indonesia (Kominfo)
PON XXI akan menjadi pekan olahraga terbesar di Indonesia (Kominfo)

Mengenal Sejarah Pekan Olahraga Nasional

By Christian Noven
PON XXI akan menjadi pekan olahraga terbesar di Indonesia (Kominfo)
PON XXI akan menjadi pekan olahraga terbesar di Indonesia (Kominfo)

Mengenal Sejarah Pekan Olahraga Nasional

By Christian Noven

Pekan Olahraga Nasional (PON) adalah salah satu ajang olahraga paling bergengsi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setiap empat tahun sekali. 

Sejak pertama kali digelar pada tahun 1948, PON telah menjadi wadah utama bagi para atlet Indonesia untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam berbagai cabang olahraga. PON juga memiliki peran penting dalam sejarah olahraga nasional, termasuk menjadi bagian dari peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang jatuh pada 9 September setiap tahunnya.

PON pertama kali digelar pada 9-12 September 1948 di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Latar belakang penyelenggaraan PON pertama ini tidak terlepas dari situasi politik dan keamanan yang saat itu melanda Indonesia. Di tahun yang sama, Indonesia sedang mengalami ketidakstabilan politik akibat agresi militer Belanda yang pertama. Dalam kondisi yang sulit ini, Indonesia juga tidak dapat mengirimkan atlet-atletnya untuk berpartisipasi dalam Olimpiade London 1948.

Kendala ini muncul karena Inggris, sebagai negara tuan rumah Olimpiade, belum mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak mengakui paspor Indonesia dan menawarkan agar para atlet Indonesia menggunakan paspor Belanda jika ingin ikut serta dalam Olimpiade. Namun, tawaran ini ditolak oleh Indonesia, yang akhirnya memilih untuk tidak ikut serta dalam Olimpiade dan memutuskan untuk menyelenggarakan acara olahraga nasional sendiri, yang kemudian dikenal sebagai Pekan Olahraga Nasional (PON).

PON pertama diikuti oleh 13 kontingen dari berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Surakarta, Yogyakarta, Kediri, Bandung, Madiun, Magelang, Malang, Semarang, Pati, Jakarta, Kedu, Banyuwangi, dan Surabaya. Terdapat sembilan cabang olahraga yang dipertandingkan, yaitu atletik, bola keranjang, bulu tangkis, tenis, renang, sepak bola, panahan, bola basket, dan pencak silat. 

Meskipun dalam kondisi sulit, PON pertama ini sukses digelar dengan diikuti oleh sekitar 600 atlet yang memperebutkan 108 medali. Acara ini juga mendapat sambutan meriah dari masyarakat, dengan sekitar 40 ribu penonton hadir di Stadion Sriwedari, Surakarta. Surakarta berhasil menjadi juara umum dalam PON pertama, diikuti oleh Yogyakarta di posisi kedua, dan Kediri di posisi ketiga.

Setelah suksesnya penyelenggaraan PON pertama, ajang ini terus berkembang menjadi acara olahraga nasional yang diadakan setiap empat tahun sekali. PON kedua diselenggarakan di Jakarta pada 21-28 Oktober 1951, diikuti oleh PON ketiga di Medan pada 20-27 September 1953. Sejak itu, PON telah digelar di berbagai daerah di Indonesia, menjadikannya ajang yang mengokohkan semangat persatuan dan kebanggaan nasional.

Sampai saat ini, tercatat telah ada 19 PON yang sukses digelar di berbagai provinsi di Indonesia. Salah satu momen penting dalam sejarah PON adalah ketika edisi ke-6 yang seharusnya diadakan di Jakarta pada tahun 1965 dibatalkan akibat peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Meski begitu, semangat untuk melanjutkan tradisi PON tetap terjaga, dan acara ini terus menjadi ajang yang dinantikan oleh para atlet dan masyarakat Indonesia.

PON XXI di Aceh dan Sumatera Utara

Pada tahun 2024, PON memasuki edisi ke-21, yang untuk pertama kalinya digelar di dua provinsi sekaligus, yaitu Aceh dan Sumatera Utara. PON kali ini dijadwalkan berlangsung pada 8-20 September 2024. Pemilihan Aceh dan Sumatera Utara sebagai tuan rumah PON XXI diputuskan melalui Musyawarah Organisasi Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI yang digelar di Jakarta Selatan pada 24 April 2018. Dalam musyawarah tersebut, Aceh dan Sumatera Utara berhasil memperoleh dukungan mayoritas dengan 24 suara dari total 34 suara KONI provinsi di seluruh Indonesia, mengalahkan Bali-NTB yang meraih delapan suara dan Kalimantan Selatan yang mendapatkan dua suara.

PON XXI juga menandai peringatan 20 tahun bencana tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004. Di Aceh, 10 kabupaten/kota akan menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Barat, dan Aceh Tenggara. Sementara itu, di Sumatera Utara, delapan kabupaten/kota yang akan menjadi tuan rumah adalah Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, Pematang Siantar, dan Toba.

PON XXI juga memiliki logo dan maskot yang mencerminkan identitas Aceh dan Sumatera Utara. Logo resmi PON 2024 diluncurkan pada 29 Oktober 2023, menggabungkan elemen Rencong, Ulos Batak, Songket Melayu, dan lima api obor yang melambangkan lima sukses PON: sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses pemberdayaan ekonomi rakyat, sukses administrasi, dan sukses pemanfaatan fasilitas pasca-penyelenggaraan. Selain itu, terdapat tiga cincin yang melambangkan persatuan dan menjadi simbol dari KONI sebagai induk organisasi olahraga prestasi di Indonesia.

Maskot PON 2024 terdiri dari dua karakter, yaitu gajah putih bernama Po Meurah yang mewakili Aceh dan harimau sumatera bernama Matra yang mewakili Sumatera Utara. Kedua maskot ini tidak hanya mewakili fauna khas daerah tersebut tetapi juga menggambarkan kekuatan dan semangat juang para atlet yang berlaga di ajang PON.

Dengan segala persiapan dan elemen budaya yang dihadirkan, PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 diharapkan dapat menjadi momen bersejarah yang mengukuhkan PON sebagai ajang olahraga nasional yang membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia.



Share