Skip to main content
FOTO: Bisnistime
FOTO: Bisnistime

Begini Cara Perusahaan Berafiliasi Israel Mencoba Menarik Perhatian Muslim Saat Ramadan

By Salma Fauziah
FOTO: Bisnistime
FOTO: Bisnistime

Begini Cara Perusahaan Berafiliasi Israel Mencoba Menarik Perhatian Muslim Saat Ramadan

By Salma Fauziah

Ramadan selalu menjadi momen spesial bagi umat Muslim di seluruh dunia. Tak jarang, berbagai perusahaan berlomba-lomba untuk ikut ambil bagian dalam euforia ini. Namun, ada yang menarik tahun ini. 

Beberapa perusahaan multinasional yang selama ini masuk dalam daftar boikot justru terlihat makin gencar mendekati komunitas Muslim. Dari promo menarik, sponsorship acara keagamaan, hingga buka puasa bersama, berbagai strategi diterapkan untuk menarik simpati.

Cara yang cukup berbeda

Menariknya, langkah ini cukup berbeda dari dua tahun lalu, saat konflik di Jalur Gaza memuncak. Kala itu, banyak perusahaan yang memilih menunjukkan kepedulian dengan berdonasi untuk Palestina melalui lembaga filantropi Islam. 

Hal itu dilancarkan salah satunya untuk menepis dugaan keterkaitan bisnis mereka dengan Israel. Kini, pola pendekatan mereka tampaknya berubah.

Ambil contoh Danone Indonesia, perusahaan di balik merek Aqua. Dalam dua tahun terakhir, mereka aktif menyalurkan dana ratusan juta rupiah untuk membantu warga Palestina dan terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan selama Ramadan. 

Unilever Indonesia pun tak mau ketinggalan. Anak perusahaan Unilever PLC yang berbasis di London ini mengalokasikan bantuan sebesar 1,5 miliar rupiah untuk Palestina pada awal 2024. Bahkan, McDonald’s ikut serta dengan jumlah yang sama, menyediakan kode QR khusus untuk pelanggan yang ingin berdonasi.

Merek yang harus diboikot dan pentingnya solidaritas sebagai Muslim

Meski begitu, ketiga perusahaan ini tetap masuk dalam daftar boikot yang direkomendasikan oleh Yayasan Konsumen Muslim Indonesia. Mereka bukan satu-satunya. Ada juga Starbucks, Zara, Mondelez Internasional, Nestlé, Burger King, Coca-Cola, dan Kraft yang masih masuk dalam daftar hitam tersebut.

Di tengah dinamika ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan pentingnya solidaritas bagi Palestina. MUI mengajak umat Islam untuk tetap konsisten dalam boikot produk-produk yang terafiliasi dengan Israel, terutama selama Ramadan. Meski gencatan senjata sempat disepakati di awal 2025, kondisi di Jalur Gaza masih jauh dari kata damai.

“Hingga kini masih ada pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk upaya memblokade bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina,” ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, dalam acara “Taujihat Palestina: Membasuh Luka Palestina 2025” yang digelar di Jakarta, Rabu (5/3).

 “Hingga saat ini, selalu saja ada upaya-upaya dari Israel untuk mengkhianati perjanjian gencatan senjata dan memblokade bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. karena itu boikot masih sangat relevan untuk menekan Israel”.

Himbauan untuk tidak berafiliasi dengan Israel

Meski mengapresiasi aksi kemanusiaan yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut, MUI tetap mengingatkan agar mereka tidak terlibat dalam hubungan bisnis dengan Israel, dalam bentuk apa pun.

“Kami katakan, jangan juga tetap memberikan dukungan kepada Israel. Misalnya, dengan melakukan perdagangan dengan Israel. Jadi ini kamuflase yang harus dihindari,” ujar Prof. Sudarnoto.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa boikot bukan hanya bentuk solidaritas, tetapi juga kewajiban bagi umat Islam, sebagaimana tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023. “Fatwa itu menegaskan haram hukumnya mengonsumsi, membeli, dan memiliki produk-produk Israel dan yang terafiliasi dengan Israel. Fatwa ini harus dikawal, dan MUI tidak pernah mencabutnya”, pungkas Prof. Sudarnoto.

Tampaknya Ramadan tahun ini kembali menjadi ajang tarik-ulur kepentingan. Namun, bagi masyarakat Muslim, pertanyaannya tetap sama: apakah ini benar-benar bentuk solidaritas, atau hanya sekadar strategi bisnis belaka?



Share