Aqua Dihajar Koster: “Botol Boleh, Gelas Minggir!”
Aqua Dihajar Koster: “Botol Boleh, Gelas Minggir!”
Gubernur Bali, Wayan Koster, tampaknya sudah muak lihat sungai dan pantai di pulau dewata berubah jadi ‘taman plastik’. Dan siapa yang lagi-lagi jadi bintang utama dalam tumpukan sampah itu? Ya, kamu nggak salah nebak: si gelas mungil Aqua milik Danone yang konon “100% bisa didaur ulang”, tapi nyatanya lebih sering nyangkut di got dan pinggir sungai.
Makanya, lewat Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 09 Tahun 2025, Koster langsung lempar ultimatum: stop produksi air minum dalam kemasan (AMDK) di bawah 1 liter. Bukan himbauan lagi, tapi larangan. Dan kalau ada produsen yang bandel? Siap-siap izin usahanya ditinjau, bahkan dicabut. Nggak cukup? Nama perusahaannya juga bakal diumumkan ke publik. Biar semua orang tahu, siapa yang “nggak layak dikunjungi”.
“Saya akan kumpulkan semua produsen. Yang gelas-gelas itu udah nggak boleh ada lagi di Bali,” ucap Koster tegas, sambil membolehkan galon karena ya… setidaknya lebih ramah lingkungan.
Menurut laporan Brand Audit 2024 dari Sungai Watch, si gelas 220 ml Aqua jadi penyumbang sampah terbanyak di Bali. Jumlahnya? 10.334 item, cuma dari satu jenis kemasan aja. Kalau ditotal, semua sampah Danone (Aqua gelas, botol, bungkus sedotan, sedotan plastik) nyaris 40 ribu item. Udah gitu, ini bukan tahun pertama. Danone konsisten jadi juara bertahan dalam kategori “penyumbang sampah terbanyak” selama empat tahun berturut-turut. Pencapaian yang nggak semua orang mau banggakan, sih.
Lebih miris lagi, walau Danone rajin ngomong soal keberlanjutan dan daur ulang, justru bagian terbesarnya kemasan kecil dan plastik ringan adalah jenis sampah yang paling susah dikumpulin dan nggak laku dijual buat didaur ulang. Artinya? Tetap nyampah.
Sungai Watch juga nemuin jurus licik: produk Aqua gelas 220 ml diam-diam dihapus dari situs resmi Danone dan diganti dengan versi baru bernama Aqua Cube. Tapi jangan senang dulu. Di lapangan, kemasan gelas ukuran 200 ml yang lebih mungil dan sama-sama bikin masalah masih gampang ditemuin, dengan harga sama pula. Jadi, bukan solusi, cuma rebranding doang. Alias, greenwashing.
“Publik nggak butuh ganti nama. Yang dibutuhin itu aksi nyata,” begitu kritik pedas dari laporan Sungai Watch.
Dan sekarang, Koster nggak mau main-main. Selain larangan dan sanksi, dia juga siap ngasih panggung ke perusahaan-perusahaan nakal. Tapi bukan panggung kehormatan melainkan diumumkan ke medsos kalau mereka nggak ramah lingkungan. Shame campaign? Oh, absolutely.
Kalau masih bandel produksi kemasan kecil, siap-siap ditelepon Pak Gub. Bukan buat kerjasama promosi, tapi buat dikasih teguran, dicabut izinnya, dan disemprot publik. Bali udah angkat senjata dalam perang melawan plastik dan kali ini, gelas kecil nggak punya tempat buat sembunyi.