Squid Game dan Ironi Kapitalisme: Permainan yang Tak Kunjung Berakhir
Squid Game dan Ironi Kapitalisme: Permainan yang Tak Kunjung Berakhir
Season kedua dari serial populer Korea Selatan, “Squid Game” kembali menampilkan Seong Gi-hun (Lee Jung-jae), sang pahlawan dari kelas pekerja. Di episode awal, Gi-hun tampak menghadiri sebuah pesta Halloween. Ia mengejar seseorang yang mengenakan seragam ikonik khas penjaga Squid Game. Adegan ini tampak ingin membawa kesan nostalgia dari season pertama, karena kostum penjaga yang sempat viral pada Halloween 2021. Menjadikan Squid Game sebagai sensasi global.
Namun, sebuah artikel yang dilansir media TIME menilai bahwa serial “Squid Game’ sebagai sebuah fenomena budaya mencerminkan ironi besar. “Squid Game” yang awalnya dibuat sebagai kritik terhadap kapitalisme, justru berubah jadi merek komersial yang sangat menguntungkan. Dari rilisnya merchandise hingga seri spin-off seperti “Squid Game: The Challenge”, “Squid Game” mulai kehilangan jati diri sebagai karya seni politis.
Memang, musim kedua masih mengangkat tema utama yakni kemunafikan kapitalisme dan kesenjangan sosial. Tetapi, narasi tersebut mulai terasa terus diulang-ulang dengan pola yang sudah familiar. Bermain, membunuh, marah, lalu mengulanginya lagi.
Fokus “Squid Game” untuk menghibur penggemar mulai kurang begitu terasa. Masih kalah jika dibandingkan dengan season sebelumnya. Bahkan, sang pencipta “Squid Game”, Hwang Dong-hyuk, mengaku lelah dengan serial ini. Ia mengatakan bahwa hidupnya kini hanya berkisar pada menciptakan dan mempromosikan “Squid Game”.
Meskipun begitu, season kedua ini juga menghadirkan beberapa elemen baru yang patut diapresiasi. Kehadiran karakter wanita yang lebih beragam dan perkembangan cerita yang lebih mendalam menjadi nilai tambah. Ada pemain yang rela bertaruh nyawa demi membantu keluarganya melunasi utang, hingga karakter transgender yang memunculkan diskusi menarik tentang inklusivitas. Sayangnya, meski elemen-elemen ini menjanjikan, mereka tidak sepenuhnya berhasil memberikan kedalaman emosional seperti musim pertama.
Judy Berman selaku penulis di Time yang mengkaji fenomena ini teringat akan salah satu kalimat yang diucapkan karakter Front Man pada salah satu episode “Squid Game”. Ironisnya, “Squid Game” sendiri kini telah menjadi bagian dari budaya konsumerisme yang ia kritik sejak awal.
Jadi, mungkinkah serial ini kembali ke akarnya sebagai kritik sosial yang tajam, atau akankah ia terus melaju sebagai roda besar kapitalisme yang tak terhentikan? Satu hal yang pasti, dunia belum berubah, tetapi permainan terus berlanjut.