Skip to main content
Suku Togutil (FOTO: Kompas Regional)
Suku Togutil (FOTO: Kompas Regional)

Togutil, Suku Terakhir yang Bertahan di Hutan Halmahera

By Salma Fauziah
Suku Togutil (FOTO: Kompas Regional)
Suku Togutil (FOTO: Kompas Regional)

Togutil, Suku Terakhir yang Bertahan di Hutan Halmahera

By Salma Fauziah

Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa) atau yang lebih dikenal luas sebagai suku Togutil merupakan suku nomaden terakhir yang kini masih tersisa di Halmahera. Suku ini hidup di wilyah hutan di Halmahera. Bagaimana kehidupan suku Togutil kini?

Sejarah suku Togutil

Melansir Project Multatuli, suku ini diklasifikasikan jadi dua. O’Hongana Manyawa (berarti manusia hutan), adalah suku yang tinggal di hutan. Lalu O’Hoberera Manyawa merujuk pada mereka yang tinggal di pesisir.

Suku Togutil, yang tinggal di hutan, memanfaatkan keahlian berburu dan meramu serta kebaikan alam untuk bertahan hidup. Meskipun kini, sudah banyak dari mereka yang menetap di luar hutan dan bekerja. 

Oleh karena kehidupan mereka berotasi di hutan, suku Togutil sangat menghormati dan menjaga hutan. Salah satu rasa hormat tersebut diwujudkan dengan tradisi menanam pohon setiap seorang anak dilahirkan. Tradisi tersebut juga merupakan bentuk rasa syukur. 

Sementara itu, pada saat seseorang meninggal, suku Togutil akan menempatkan jenazahnya di sebuah pohon yang ada di area khusus. Tradisi seperti inilah yang menunjukkan betapa berartinya hutan bagi suku Togutil. Melansir RRI, mereka bahkan percaya bahwa pohon punya jiwa dan perasaan layaknya manusia. 

Itulah mengapa, program pemukiman yang sempat dibuat pemerintah untuk suku Togutil tidak berhasil. Sebab, pada akhirnya kembali ke muasal kehidupannya di hutan.

Kasus kelam masa lalu

Pada sebuah karya jurnalisme garapan Project Multatuli, terdapat sebuah kasus kelam yang melibatkan masyarakat suku Togutil. Kasus tersebut dibingkai dalam sebuah artikel panjang berjudul “Penjaga Hutan Terakhir Halmahera yang Dicap Pembunuh, Diasingkan, dan Dirampas Ruang Hidupnya”.

Dua orang suku Togutil yang bernama Bokum dan Nuhu dari hutan Akejira, Halmahera Tengah dituduh melakukan pembunuhan di hutan. Keduanya lalu dipenjara, salah satunya meninggal dunia di tahanan. Penetapan Bokum dan Nuhu sebagai tersangka punya banyak lubang kejanggalan.

Maharani Caroline selaku kuasa hukum keduanya menjelaskan bahwa bukti-bukti dan keterangan saksi adalah keterangan yang penuh rekayasa. Bahkan seakan hanya dibuat agar polisi tak lagi disudutkan oleh keluarga korban untuk menemukan pelaku pembunuhan.

Selain itu, tim penasihat hukum juga tidak menemukan motif valid dari pembunuhan tersebut. Mereka beranggapan Bokum dan Nuhu tidak seharusnya bertanggung jawab atas kasus pembunuhan.

Masalah ini menjadi memilukan karena Bokum dan Nuhu sama-sama meninggalkan anak-istri yang mengandalkan mereka dalam berburu makanan. Keluarga Nuhu kabarnya memutuskan keluar dari hutan, dan istrinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Terancam punah

Pada Mei 2024, viral sebuah video yang memperlihatkan tiga suku Togutil menyambangi wilayah pertambangan di area hutan Kaorahe. Kejadian langka ini mendapat banyak tanggapan, salah satunya dari aktivis masyarakat adat, Munadi Kilkoda. Seperti diberitakan Detik, Munadi beranggapan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik kejadian tersebut.

“Mereka kehilangan habitat penting itu yang sekian tahun lamanya menopang hidup mereka. Habitat yang mereka pertahankan sebagai rumah dan karena itu, habitat tersebut berkontribusi terhadap kelangsungan hidup manusia dan ekosistem lainnya,” jelas Munadi.

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa penggusuran sudah banyak dilakukan di kawasan hutan yang ditinggali suku Togutil. Tak hanya di Kaorahe, tapi juga di daerah hutan Akejira dan Sakaulen. 

Suku Togutil terus berjuang mempertahankan tradisi di tengah ancaman eksploitasi hutan dan modernisasi. Tekanan dari luar memaksa sebagian dari mereka keluar dari hutan, mengubah cara hidup yang telah diwariskan turun-temurun. Pelestarian budaya dan perlindungan hak mereka sebagai masyarakat adat menjadi hal yang mendesak agar mereka tetap dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang mereka junjung.



Share