Rokok: Sejarah, Bahaya, dan Penyebabnya
Rokok: Sejarah, Bahaya, dan Penyebabnya
Merokok telah menjadi kebiasaan yang mudah ditemui di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang.
Angka ini didominasi oleh usia 15-19 tahun sebanyak 56,5% dan 10-14 tahun sebanyak 18,4%.
Fakta yang cukup mengejutkan mengingat aturan rokok tidak diperbolehkan untuk mereka yang berusia di bawah 18 tahun sesuai PP Nomor 19 tahun 2012.
Sementara itu, perokok terbanyak berasal dari jenis kelamin laki-laki yang mencapai 56,36% sedangkan perempuan hanya 1,06%.
Rokok telah masuk di Indonesia sejak abad ke-17
Melihat sejarahnya, perkembangan rokok di Indonesia sudah ada sejak abad ke-17. Pedagang dari Eropa, terutama Belanda, menjadi dalang awal menyebarnya rokok di nusantara.
Pada awalnya memang rokok menjadi komoditas mewah yang tidak bisa dinikmati sembarang orang. Hanya bangsawan maupun pejabat kolonial saja. Namun, perlahan rokok mulai menyebar ke seluruh masyarakat.
Belanda mengambil kesempatan dengan memperkenalkan perkebunan tembakau kepada masyarakat. Tenaga kerja lokal digunakan untuk mengubah daun tembakau menjadi rokok.
Rokok semakin berkembang dengan kehadirannya rokok kretek yang dikembangkan oleh Haji Djamhari pada 1870.
Kini, rokok sudah tidak menjadi bawang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang saja. Merokok telah menjadi budaya tersendiri yang terus berkembang di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Bahaya Merokok
Meski telah menjadi ‘teman’ lama masyarakat, merokok menyimpan masalah kesehatan yang perlu menjadi perhatian. Dalam sebatang rokok yang Anda konsumsi diperkirakan mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia dimana sekitar 70 diantaranya dapat memicu kanker.
1. Penyakit paru-paru
Merokok sangat tidak baik untuk paru-paru Anda. berbagai penyakit paru-paru seperti radang paru-paru, bronchitis, pneumonia, hingga kanker paru-paru bisa menyerang para perokok. Asap yang dihirup ketika merokok dapat menyebabkan kerusakan sel dalam organ paru-paru yang berakibat fatal pada kesehatan.
2. Gangguan kardiovaskular
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah dan membuat jantung bekerja lebih keras. Beberapa kandungan dalam rokok, misalnya nikotin, juga bisa menyebabkan serangan jantung, stroke, dan aneurisma otak. Merokok membuat pembuluh darah menjadi kaku sehingga aliran darah ke jantung dan otak menjadi terhambat.
3. Masalah kesuburan dan kehamilan
Bagi Anda yang sedang mengharapkan penerus, ada baiknya segera berhenti merokok. Karena merokok disebutkan dapat memengaruhi kesuburan pada laki-laki dan meningkatkan risiko keguguran pada perempuan. Zat berbahaya dalam rokok juga dinilai tidak baik bagi kesehatan kandungan dalam perut ibu.
4. Pengeroposan tulang
Orang yang gemar merokok akan mengalami risiko tulang keropos lebih tinggi. Ini dikarenakan racun pada rokok dapat membuat tulang semakin lama semakin rapuh. Riset menunjukkan wanita yang merokok lebih tinggi risiko terkena osteoporosis daripada wanita yang tidak merokok.
5. Gangguan psikologis
Zat nikotin yang ada di rokok dapat membuat penggunanya merasa nyaman dan kecanduan. Jika terus dilakukan akan merusak fungsi otak yang mengakibatkan pada rasa cemas, susah tidur, atau depresi. Perasaan ini terutama dialami oleh perokok yang berusaha berhenti secara tiba-tiba.
Penyebab orang merokok
Ada beberapa hal mengapa seseorang mulai merokok. Pertama dari segi lingkungan sosial. Lingkungan yang melihat rokok sebagai hal baik dan lumrah akan membuat seseorang terdorong untuk merokok juga. Apalagi stigma yang diberikan seperti: “masa laki-laki tidak merokok. Huh, cupu!” membuat seseorang merasa terasingkan hanya karena menolak rokok.
Rasa penasaran yang timbul karena banyaknya perokok di sekitar seseorang akan mendorongnya untuk coba-coba sebelum akhirnya kecanduan.
Kedua bisa kita lihat dari regulasi dan pengawasan yang kurang ketat. Aturan merokok, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya sudah jelas. Selain itu merokok juga tidak bisa di sembarang tempat. Ada tempat-tempat khusus dimana perokok hanya boleh merokok di situ.
Akan tetapi, aturan dan pengawasan yang tidak ketat membuat aturan tersebut hanya sebatas tulisan di atas kertas saja. Masih banyak masyarakat yang melanggar, bahkan sampai berani menjual kepada anak di bawah umur.
Poin ketiga, yaitu harga rokok di Indonesia masih tergolong murah. Disebutkan rokok di Indonesia masih ada yang di bawah US$ 2 saja untuk satu bungkus. Ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke 47 dari 58 negara di seluruh Asia (semakin tinggi angka berarti semakin murah harga rokok).
Sedangkan negara dengan harga rokok termahal yaitu Niue mencapai US$16 per bungkus dan Nauru seharga US$9 per bungkus.
Harga yang murah ini berpengaruh terhadap intensitas pembeli. Tak tanggung-tanggung, sehari bisa saja seseorang habis berbungkus-bungkus rokok.
Poin keempat kenapa merokok bisa merajalela, yaitu adanya normalisasi kebiasaan merokok di masyarakat. Merokok dianggap sebagai hal yang biasa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Makanya tidak jarang ditemui di jalanan para pengendara juga merokok meskipun itu membahayakan pengguna jalan lainnya.
Bahkan beberapa kalangan menjadikan rokok sebagai kebutuhan wajib, bersanding dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Bisnis rokok
Pada tahun 2022, pendapatan negara dari cukai rokok menyentuh angka 226,88 triliun. Ini meningkat 109% dibandingkan 10 tahun yang lalu.
Industri rokok menyumbang 7,8% dari pendapatan negara selama 17 tahun belakangan ini. Angka ini lebih besar dibandingkan setoran laba BUMN yang hanya 2,7%.
Memang, sekilas rokok memberikan kontribusi yang cukup baik pada negara kita. Akan tetapi, kami rasa dampak negatif merokok masih jauh lebih banyak ketimbang positifnya.
Polusi udara, penyakit dalam, bahkan kemiskinan juga menghantui para perokok. Bukan hanya perokok saja yang terkena dampaknya, mereka yang tidak merokok atau perokok pasif, juga merasakan rasa sakit. Terutama bagi perokok pasif yang memang sensitif dengan asap entah karena genetik atau penyakit yang diidap.
Terlepas dari itu, semua kembali pada diri masing-masing. Apakah mau berubah ke arah pola hidup yang sehat dan tidak merugikan atau tetap menjadi ‘bagian’ dari bisnis besar perdagangan rokok.