Skip to main content
Menyuarakan pendapat adalah salah satu bentuk kegiatan berpolitik (Foto: unsplash/Markus Spiske)
Menyuarakan pendapat adalah salah satu bentuk kegiatan berpolitik (Foto: unsplash/Markus Spiske)

Malas Berpolitik, Sengsara Kemudian

By Raihan Atha
Menyuarakan pendapat adalah salah satu bentuk kegiatan berpolitik (Foto: unsplash/Markus Spiske)
Menyuarakan pendapat adalah salah satu bentuk kegiatan berpolitik (Foto: unsplash/Markus Spiske)

Malas Berpolitik, Sengsara Kemudian

By Raihan Atha

Masih sering kita temui sekumpulan orang yang enggan bersinggungan dengan politik. Alasannya karena politik tidak memengaruhi hidupnya. Terkadang disangkutpautkan dengan politik yang ruwet, ribet, dan tak tentu.

Pernyataan politik yang ribet memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kalau menganggap politik tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari, itu salah besar.

Politik pada dasarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Harga pangan, biaya bensin, pendidikan, hingga pekerjaan turut terkandung politik di dalamnya.

Sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang tersebut yang enggan bercengkrama dengan politik. Toh faktor diluarnya juga menjadi penentu apakah seseorang mau berpolitik atau tidak.

Kenapa orang enggan berpolitik?

Faktor pertama yang bisa kita identifikasi mengapa seseorang enggan berpolitik itu karena politik identik dengan pekerjaan yang kotor. Mulai dari pemilihan pemimpin dengan suap dan gratifikasi hingga senggol-senggolan antar seseorang agar menang ketika pemilihan. Tak jarang mereka yang berpolitik seperti menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.

Kedua bisa dilihat dari sektor politik kita yang tidak lagi demokratis tetapi mengarah ke nepotisme. Suami, istri, anak, saudara, menantu, hingga cucu cicit diarahkan menempati posisi strategis. Akibatnya seseorang merasa percuma berpolitik karena pasti itu-itu aja yang memiliki kuasa.

Ketiga, merasa politik adalah hal yang eksklusif dimiliki orang tertentu. Banyak profesi yang melarang seseorang untuk mengungkapkan hak politiknya. Sebut saja TNI-Polri, nakes, hingga tenaga pendidik. Alahasil muncul pemikiran berbicara politik hanya untuk golongan tertentu. Ini tidak benar ya, karena politik itu milik kita bersama.

Seberapa dekat politik dengan kita?

Politik sangat amat dekat dengan kita. Bahkan boleh kita mengatakan kalau politik memengaruhi segala unsur kehidupan. Dengan melek politik kita bisa menentukan langkah selanjutnya sebelum hal buruk terjadi. Kita juga akan lebih cerdas dan tidak mudah dibohongi oleh penguasa yang berjanji manis demi mencari suara.

Itu dalam pemilihan. Soalan perut juga terkandung politik di baliknya. Harga beras yang melambung tinggi, susu anak nggak ngotak, pekerjaan berat tapi keamanan kerja rendah menjadi sedikit contoh hadirnya politik di keseharian kita. Kebijakan politik yang baik bisa memberikan kemudahan dalam hidup.

Permasalahannya kita terlalu disibukkan dengan keruwetan duniawi sehingga abai dengan masalah politik ini. Kita merasa urusan perut nomor satu, urusan politik terakhir. Padahal, seharusnya dua hal ini bisa berjalan seiringan karena memang saling berkaitan.

Abai politik, hidup sengsara

Kita sudah membahas cukup panjang mengenai politik yang memengaruhi kehidupan kita. Kalau kita abai dengan politik maka kehidupan kita akan terasa carut marut. Kita akan merasa tak berdaya dan harus pasrah saja terhadap gonjang ganjing kehidupan ini.

Kalau dalam ranah pemerintahan, abai politik berarti melanggengkan kekuasaan sekelompok orang tanpa melihat kompetisi mereka. Nepotisme semakin kuat dengan kebijakan-kebijakan yang memberatkan kita sebagai warga biasa. Urusan jilat-menjilat menjadi hal yang lumrah demi mempertahankan posisi yang dimiliki.

Orientasinya tidak lagi pada hasil, melainkan kepuasaan golongan tertentu saja. Istilah “asal bapak senang” semakin merajalela, membuat kebijakan jalan mundur ke belakang.

Kita juga akan semakin mudah ditipu dengan dalih “ini bermanfaat bagi diri Anda,” yang sebenarnya malah merugikan. Tapi, karena abai, akhirnya ya terima-terima saja.

Akibatnya penyimpangan aturan semakin banyak. Aturan nyeleneh yang nggak masuk di akal disahkan begitu saja. Kita hanya menjadi batu loncatan untuk menebalkan kantong orang tertentu.

Pada akhirnya, adalah pernyataan yang bodoh–kalau boleh saya bilang–menganggap politik itu tidak penting dan malas menjalaninya. Karena, dengan melek politik kita dapat menyetir arah kehidupan kita. Setidaknya hingga batas tertentu.



Share