Skip to main content
FOTO: Freepik
FOTO: Freepik

Kisah Pahit Pekerja FnB Jakarta: Upah Minim, Beban Maksimal

By Salma Fauziah
FOTO: Freepik
FOTO: Freepik

Kisah Pahit Pekerja FnB Jakarta: Upah Minim, Beban Maksimal

By Salma Fauziah

Belakangan, tagar #KasusPekerjaFnB ramai diperbincangkan di platform X, bahkan sempat memuncaki trending topic. Tagar ini berawal dari kajian sebuah media tentang kesejahteraan pekerja sektor FnB (food and beverage), khususnya di Jakarta.

Pekerja FnB merujuk pada individu yang bekerja di restoran, kafe, atau tempat sejenis yang menawarkan makanan dan minuman kepada pelanggan. Namun, di balik gemerlapnya industri ini, ada sisi gelap yang kerap luput dari perhatian publik. Media Parboaboa jadi salah satu yang mengungkap berbagai fakta pahit yang dialami para pekerja di sektor ini.

Perlu mental sekuat baja

Di industri FnB, pekerja sering kali menghadapi situasi yang penuh tekanan. Tak jarang, mereka mendapat perlakuan kasar di tempat kerja. Lebih dari sekadar teguran dengan nada tinggi, beberapa pekerja melaporkan mengalami tindakan fisik, seperti dilempar benda oleh rekan kerja atau atasan.

Misalnya, ada kasus pekerja dilempar spatula karena dinilai lambat melayani pelanggan di tengah ramainya restoran. Situasi seperti ini membuat hanya sedikit orang yang mampu bertahan di industri ini. Meski begitu, banyak yang terpaksa menguatkan mental demi mempertahankan pekerjaan.

Upah tak sebanding dengan beban kerja

Beban kerja pekerja FnB sangat berat, sering kali tanpa waktu kerja yang jelas. Ketika restoran sedang ramai, pekerja kerap harus menambah jam kerja tanpa adanya jaminan uang lembur. Jam kerja yang panjang ini bahkan bisa berlangsung dari pagi hingga pagi berikutnya.

Ironisnya, upah yang diterima sering kali tidak mencukupi. Banyak pekerja di sektor FnB yang dibayar di bawah upah minimum provinsi Jakarta. Dengan biaya hidup yang tinggi di ibu kota, nominal ini tentu tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dicurahkan.

Tanpa status karyawan tetap

Parboaboa juga menyoroti permasalahan lain, yaitu minimnya jaminan kesejahteraan bagi pekerja FnB. Sebagian besar pekerja tidak memiliki status sebagai karyawan tetap. Banyak restoran lebih memilih mempekerjakan pelajar atau pekerja kontrak karena dapat memberikan upah yang lebih rendah.

Ketidakjelasan status ini membuat pekerja berada dalam posisi rawan. Mereka dapat diberhentikan kapan saja, tanpa memandang dedikasi atau kontribusi mereka selama ini. Selain itu, tidak adanya status tetap juga berdampak pada absennya hak-hak seperti asuransi kesehatan atau tunjangan lainnya.

Realita pahit yang dihadapi para pekerja sektor FnB menunjukkan bahwa industri ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam memperbaiki kesejahteraan para pekerjanya. Di balik pelayanan yang ramah dan makanan lezat yang dinikmati pelanggan, ada perjuangan keras yang tak terlihat. Tagar #KasusPekerjaFnB menjadi pengingat bahwa isu ini perlu perhatian serius, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari pelaku usaha dan masyarakat luas. Ke depan, semoga ada perubahan yang memberikan rasa keadilan bagi para pekerja yang menjadi tulang punggung industri ini.



Share