Nikita Willy Melahirkan dengan Water Birth, Cocokkah untuk Ibu di Indonesia?
Nikita Willy Melahirkan dengan Water Birth, Cocokkah untuk Ibu di Indonesia?
Baru-baru ini, berita kelahiran anak kedua Nikita Willy jadi trending topic di kalangan para orang tua. Soalnya, ada yang menarik dari proses persalinan putra Nikita. Kali ini, ia melahirkan menggunakan metode water birth, yaitu melahirkan di dalam air. Wah, gimana tuh? Simak artikel ini untuk detail selengkapnya!
Mengenal persalinan water birth
Jika menggunakan prosedur water birth, persalinan seorang ibu akan dilakukan dalam bak berisi air hangat. Metode ini sering dipilih karena memberikan kenyamanan bagi ibu, sehingga rasa sakit yang ia rasakan akan berkurang. Prosedur ini bisa dilakukan di rumah, tempat bersalin, atau rumah sakit yang memang menyediakan layanan water birth.
Water birth juga sering dipilih oleh ibu hamil yang tidak ingin menggunakan epidural saat proses bersalin. Epidural adalah penyuntikan obat bius yang akan membuat organ tubuh dari pusar ke bawah mati rasa, sehingga persalinan tidak akan terasa begitu sakit.
Meski begitu, ahli menghimbau bahwa water birth tidak serta-merta menghilangkan rasa sakit saat bersalin. Melansir Parents, David Ghozland, MD, selaku praktisi obgyn memperingatkan bahwa rasa sakit melahirkan tetap terjadi meskipun dilalui dengan water birth. Meski begitu, suasana yang lebih menenangkan dan air hangat yang punya efek relaksasi dapat lebih membantu ibu menangani rasa sakitnya.
Pro-kontra water birth
Praktik water birth memang belum banyak terjadi, apalagi di Indonesia. Selain itu,memang masih ada banyak pro-kontra yang mengitarinya. Di satu sisi, water birth dapat sangat menolong sang ibu. Memberinya perasaan relax dan bahkan mengurangi rasa sakitnya. Air hangat juga bisa memperkecil kemungkinan robekan perineum (area antara vagina dan anus).
Namun, di sisi lain, water birth juga punya segudang risiko. Salah satu yang paling diantisipasi adalah risiko bayi tenggelam, kekurangan oksigen, hingga infeksi. Untuk ibu, water birth juga berisiko menyebabkan infeksi karena ibu terkontaminasi air ketuban yang pecah saat proses melahirkan.
Belum dianjurkan di Indonesia
Pro-kontra yang mengitari water birth membuat siapapun wajib berkonsultasi dulu ke dokter sebelum memutuskan melakukannya. Sementara itu, di Indonesia, praktik water birth masih belum mendapat lampu hijau dari para ahli.
Melansir Hai Bunda, perhimpunan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) masih belum menyarankan adanya water birth di Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena sempat ada kasus kematian janin karena water birth beberapa tahun lalu. Selain itu, menimbang risiko yang besar seperti telah disebutkan, water birth masih belum dianggap aman, baik untuk ibu maupun sang buah hati.
Water birth mungkin terdengar menarik bagi banyak calon ibu karena menawarkan pengalaman melahirkan yang lebih tenang dan nyaman. Namun, seperti metode persalinan lainnya, penting bagi kita untuk memahami risikonya dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan. Apapun metodenya, setiap perjalanan melahirkan adalah momen luar biasa yang patut dihargai.